The Return of the Prodigal Son adalah salah satu lukisan yang paling banyak dibicarakan di dunia. Seorang sejarawan seni terkenal, Kenneth Clark menyebutnya sebagai “Lukisan teragung yang pernah dilukis”. Lukisan tersebut dibuat oleh Rembrandt di atas kanvas besar dengan lebar 2.6 x 2 meter. Dibutuhkan dua tahun untuk menyelesaikan lukisan tersebut. Saat ini lukisan tersebut dijaga dan dikurasi oleh Museum Hermitage di St. Petersburg.

Hal lain yang menarik adalah karya ini juga merupakan karya terakhir seorang yang dikenal dengan nama Rembrandt Harmenszoon van Rijn. Lukisan tersebut selesai sebelum ia meninggal dunia (1669). Rembrandt rupanya sangat tergerak oleh perumpamaan dari Alkitab ini (Luk. 15 : 11-32), bukan hanya di akhir hidupnya saja, melainkan hampir di seumur hidupnya ia mencoba menghayati dan mengekspresikan makna dan penerapannya dalam hidupnya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari berbagai gambar sketsa, dan lukisan tematik selama perjalanan 30 dekade hidupnya, dimulai dengan pahatan di atas metal (1636). Lalu lukisan yang memuat gambar dirinya sebagai anak hilang yang sedang berfoya-foya (1637). Kemudian pada sketsa lain pada tahun 1642. Dan terakhir dengan lukisan berkanvas besar tahun 1669.

Lukisan The Return of the Prodigal Son merupakan karya seni yang dilukis oleh seorang yang memahami tentang apa artinya menjadi seorang anak yang terhilang. Melalui karya seninya, Rembrandt menafsirkan gagasan Kristiani tentang belas kasihan dengan menunjukkan betapa dalamnya kerusakan hidup dari setiap manusiadi dunia ini, dan oleh sebab itu membutuhkan keselamatan dan pengampunan dari Allah Bapa. Sekalipun sudah berusia lanjut, kekuatan teknik lukisnya tidak berkurang sedikit pun, bahkan dalam lukisannya terdapat banyak sekali kedalaman wawasan psikologis dan spiritual. Rembrandt Harmenszoon van Rijn menjadi pelukis Protestan terbesar hingga saat ini.

Nah, bagaimanakah riwayat hidup seorang Rembrandt? Kita akan menelurusi perjalanannya dalam paragraf berikut.

Masa Kecil

Rembrandt dilahirkan pada 16 Juli 1606 dalam keluarga gereja Protestan yang saleh. Nama lengkapnya adalah Rembrandt van Rijn. Dia adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan Harmen van Rijn, seorang penggiling jagung, dan Cornelia van Zuijtbrouck, putri seorang pembuat roti. Mereka tinggal di Leiden, dekat Sungai Rhine. Cornelia sering membacakan Kitab Suci kepada anak-anaknya, yang memberikan mereka keluasan wawasan mengenai Tuhan, manusia, dan alam. Orang tua Rembrandt melihat talenta Rembrandt yang unik, sehingga mereka mengirimnya ke Leiden untuk mendapatkan pendidikan khusus, dari usia 7 hingga 14 tahun. Di sana Rembrandt menerima pendidikan terbaik secara akademis di Belanda. Dia masuk Universitas Leiden, namun setelah beberapa bulan, dia keluar dari Universitas dan selanjutnya mengabdikan dirinya pada dunia seni.

Rembrandt mendapat kesempatan magang selama tiga tahun pada pelukis besar bernama Jacob Swanenburgh, yang mengajarinya dasar-dasar melukis, menggambar, dan membuat sketsa. Ketika Rembrandt masih remaja, ayahnya mengirimnya ke Amsterdam untuk belajar pada Pieter Lastman, seorang pelukis peristiwa sejarah Italia yang sangat terampil. Lastman mendalami karya Caravaggio dan Eisheimer, seorang pelukis Jerman yang tinggal di Roma, yang menggunakan teknik chiaroscuro (suatu teknik yang mengontraskan latar belakang gelap dengan cahaya yang menyoroti figur dalam gambar).

Hanya dalam beberapa bulan, Rembrandt telah menguasai teknik chiaroscuro serta penggunaan warna-warna cerah mengkilap dan pose-pose dengan gerakan teatrikal. Lastman juga ikut meyakinkan Rembrandt untuk lebih berkonsentrasi pada peristiwa sejarah dan religius, meskipun pembeli seni lokal lebih menyukai pemandangan dari kehidupan sehari-hari mereka. Seperti yang dikutip oleh Paul Nemo dalam “Rembrandt Drawings” tahun 1975, Rembrandt muda memiliki perasaan yang kuat tentang subyeknya, dengan mengatakan, “Lukisan adalah cucu alam. Dan lukisan itu selalu terhubung dengan Tuhan."

Yang memberikan mereka keluasan wawasan mengenai Tuhan, manusia, dan alam

Di Amsterdam Rembrandt muda mengembangkan ketertarikannya untuk menggambarkan reaksi pribadi yang dramatis dan teknik melukis dengan teknik chiaroscuro. Dalam sebagian besar lukisannya, cahaya muncul dari kegelapan, menciptakan gerakan emosional yang menarik pemirsanya ke dalam pemandangan dan yang tak lekang oleh waktu.

Orang-orang sezamannya melukiskan kisah dari Alkitab juga, namun tidak dengan semangat dan cara berpikir seperti Rembrandt. Dalam setiap lukisannya, Rembrandt berupaya dengan sungguh untuk menangkap emosi karakter, dan secara unik berupaya memberi ruang bagi pemirsanya untuk terlibat dalam lukisan tersebut.

Masa Muda

Pada usia 18 atau 19 tahun, Rembrandt kembali ke Leiden untuk mendirikan studionya sendiri. Pada 1629, Rembrandt bertemu Constantin Huygens, seorang negarawan di pengadilan Den Haag. Huygens adalah orang Belanda yang memiliki pengetahuan luas tentang seni, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melayani para bangsawan Kerajaan Belanda.

Huygenslah yang memperkenalkan Rembrandt kepada banyak anggota keluarga bangsawan Kerajaan Belanda. Huygens mendorong Rembrandt untuk mengunjungi Italia, terutama Roma, dan mempelajari banyak mahakaryanya di sana. Rembrandt semakin tertarik pada dunia seni dan barang-barang seni antik serta mulai mengoleksinya. Pengaruh Huygens mendorong Rembrandt memutuskan untuk pindah ke kota metropolitan Amsterdam yang padat pada tahun 1932.

Pada 1632, Rembrandt menunjukkan kepiawaiannya yang lain, dengan melukis potret berkelompok dengan judul “Dr. Tulp Anatomy Lesson” , yang membuatnya semakin berpengaruh. Ia kemudian bergabung dengan anggota serikat pelukis lokal Amsterdam. Sepanjang 1630-an, Rembrandt menghasilkan setidaknya 65 potret pesanan.

Masa Dewasa

Di Amsterdam, Rembrandt awalnya tinggal dengan seorang pedagang seni bernama Hendrick van Uylenburgh. Di sanalah Rembrandt bertemu dengan sepupu Hendrick, Saskia van Uylenburgh, yang merupakan putri seorang wali kota yang berada. Rembrandt jatuh cinta, dan keduanya menikah pada 1634. Rembrandt dikenal sebagai seniman muda yang makmur dan modis saat itu. Meskipun pernikahan Rembrandt dan Saskia berjalan bahagia, namun sesudah pernikahan, suasana duka menyelimuti keluarga mereka. Tiga anak mereka, meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Putra mereka Rumbartus, meninggal dua bulan setelah kelahirannya, pada tahun 1635, dan putri mereka, Cornelia, meninggal pada usia tiga minggu, pada tahun 1638. Pada tahun 1640, mereka memiliki seorang putri kedua, juga bernama Cornelia, yang meninggal setelah hanya satu bulan kehidupan. Hanya Titus, satu-satunya anak laki-laki dapat bertumbuh hingga menjadi seorang remaja. Setelah melahirkan Titus, tidak lama kemudian Saskia meninggal dunia pada tahun 1642.

Rembrandt dewasa terbiasa hidup dengan kemewahan. Rupanya gaya hidup itu mendorongnya semakin tertarik pada koleksi barang antik. Dia membeli rumah yang lebih besar dan memesan lebih banyak barang antik yang mahal untuk status sosial serta untuk peragaan lukisannya. Rembrandt mengoleksi karya seni dan baju besi, kostum, turban oriental, dan barangbarang aneh lainnya dari tempat asing seperti pedang lengkung, belati Jawa, dan sanggur Polandia. Akibatnya pada tahun 1639, ia harus menjual banyak aset pribadinya untuk melunasi utang yang sudah jatuh tempo.

Rembrandt mengoleksi karya seni dan baju besi, kostum, turban Oriental...seperti pedang lengkung, belati Jawa, dan sanggur Polandia

Rembrandt mengakui hidupnya yang boros dalam lukisan “Anak yang Hilang” yang sedang menghamburhamburkan uang di sebuah bar bersama istrinya, yang ia gambarkan sebagai pelacur. Rembrandt memang sering kali mengekspresikan refleksi imannya dengan menampilkan dirinya dalam lukisan yang diambil dari cerita Alkitab. Dalam The Raising of the Cross, terlihat Rembrandt hadir di antara kerumunan dengan tetap memakai pakaian modernnya, ikut mendukung peristiwa penyaliban tersebut. Seolah Rembrandt sedang mengatakan bahwa dirinya adalah manusia berdosa yang juga ikut terlibat secara pribadi dalam penyaliban Kristus.

Selain kisah malapetaka dan utang yang melilitnya, Rembrandt juga diketahui memiliki skandal. Sesudah istrinya meninggal, Rembrandt diduga memiliki  hubungan khusus dengan asisten rumah tangganya yang bernama Hendrickje Stoffels. Dalam surat wasiat dari Saskia, istrinya, dijelaskan bahwa jika Rembrandt kemudian menikah kembali, maka seluruh kekayaannya akan diwarisi anak mereka, Titus, dan Rembrandt tidak mendapatkan apapun. Terimpit oleh kesukaran keuangan, dan pertimbangan agar uang warisan tidak dikorbankan, karenanya ia menjadikan wanita asisten rumah tangganya, Hendrickje, sebagai istrinya di luar nikah. Rembrandt sempat dipanggil untuk menghadap dewan gereja Reformed saat itu, namun ia tidak pernah hadir untuk menyangkali hal tersebut. Transkrip resmi mencatat, bahwa Hendrickje tampak hamil, dan “mengaku melakukan hubungan khusus dengan Rembrandt”. Atas dasar itu gereja secara resmi menyatakan bahwa Rembrandt perlu digembalakan secara khusus dan dikeluarkan dari komunitas Perjamuan Kudus gerejawi. Pada 1656 utang Rembrandt kembali jatuh tempo dan ia tidak sanggup melunasinya. Oleh karena itu Rembrandt dipaksa mengajukan pailit. Dia harus kehilangan rumahnya, koleksi seninya, dan juga harga dirinya. Dia dilarang menjual karyanya sendiri, karena semua aset disita oleh pihak berwenang. Ia diharuskan bekerja di sebuah perusahaan di luar kota. Sesekali kembali ke kontrakan rumahnya yang sederhana, untuk bertemu dengan keluarganya.

Pada tahun 1663, Rembrandt tua menjumpai Hendrickje, istrinya, yang kemudian meninggal dunia. Pada tahun 1668, putra Rembrandt, Titus, juga sakit dan meninggal. Rembrandt sangat sedih mengetahui hal itu. Tahun berikutnya, Rembrandt juga mengalami sakit dan kemudian meninggal. Rembrandt dikuburkan secara sederhana seperti layaknya keluarga yang miskin dan tidak ada tanda nisan yang dibuat khusus. Sampai hari ini tidak ada yang mengetahui letak kuburan dari seorang yang pernah begitu terkenal.

Rembrandt meninggalkan hanya satu putri dari Hendrickje dan hasil karya sejumlah lebih kurang 870 lukisan dan 1.400 gambar sketsa, yang dikerjakan seumur hidupnya.

Penutup

Rembrandt merancang setiap lukisannya sebagai sebuah pergumulan dan ekspresi iman pribadi yang otentik. Ketika orang-orang religius modern menjadikan Alkitab hanya untuk dibaca dan dikhotbahkan untuk orang lain, Rembrandt menjadikan Kitab Suci sebagai Firman Hidup yang membaca kehidupannya sendiri.

Rembrandt mencari nafkah dengan melukis dan mengekspresikan imannya dalam setiap karya seninya. Kepiawaian menggunakan chiaroscuro, adalah ciri khas karya Rembrandt yang terbaik. Pekatnya warna gelap sering kali dengan jelas memperlihatkan cahaya spiritual yang timbul dari dalam pola lukisannya.

Meskipun seni lukisnya menunjukkan ketulusan Kristiani yang agung, kehidupan pribadi Rembrandt seperti layaknya semua manusia biasa, tidaklah tanpa cacat. Namun anugerah Tuhan tidak pernah lelah mengejarnya. Di akhir hidupnya, Roh Kudus bekerja menyadarkan dirinya akan banyaknya dosa dan kesalahan yang tidak mungkin ditebusnya. Selama dua tahun, di hadapan Tuhan, dia menggumuli semua itu, dan menemukan sebuah metafora yang dapat merangkum seluruh kehidupannya. Ia menemukan dirinya dalam lukisan Anak yang Hilang. Sang anak yang menyadari dosa dan kesalahannya lalu menemukan sukacita terbesar karena mendapatkan Sang Bapa berlari mengejarnya dan bersedia mengampuni dan menerimanya kembali. Adakah sukacita yang lebih besar di dalam hidup ini selain mendapatkan kembali pengampunan yang selama ini terhilang?

Rembrandt menjadikan Kitab Suci sebagai Firman Hidup yang membaca kehidupannya sendiri

Sumber:

https://www.christianitytoday. com/history/people/ musiciansartistsandwriters/rembrandtharmensz-van-rijn.html

https://biokristi.sabda.org/rembrandt_ menyelesaikan_lukisan_kembalinya_ anak_hilang

https://www.theartstory.org/artist/ rembrandt-van-rijn/life-and-legacy/